Tempat untuk Berpesan

Langkah langkah kecil berbait, sampiran isi bertaut. Selepas membubuhkan ujaran pada setiap pertemuan.



Ketepatan waktu sesungguhnya ialah mengolah pesan pada tiap kiasan hasil dari sebuah pengembaraan. Halnya aku saat jam menunjukkan tengah malam lorong masuk stasiun yang sepi aku kunjungi. Sempat diam sejenak memandang sekitar hanya ada beberapa orang saja duduk santai sembari berkabar dengan sanak dirumah bahwasanya "sebentar lagi aku berangkat, tolong bila nanti sampai aku dijemput" atau berpamitan dengan pengantar "terimakasih telah mengantarku. Aku ingin melepas rinduku dengan saudaraku. Esok bila luang jemput aku ditempat ini". Sungguh pesan ringan namun sangat dalam bukan?. Entah siapapun tujuan berpesan disana tersirat pada batin tentang kerelaan.

Terhanyut suasana haru berbalut kegembiraan membuatku ingin menyusun diksi-diksi untuk menyampaikan apa yang ku tangkap.

Kali kesekian aku memasuki lorong 
Sesak menyampaikan hati-hati dan salam
Netramu begitu tajam untuk kurindukan
Jarak semakin membuat arti 
Jangka waktu meratapi pasti 

Kali kesekian aku duduk berjajar 
Dari kata yang disampaikan dalam diam 
Mata dengan mata simbol perwakilan 
Tentang sebuah makna perjalanan 

Solo Balapan. 21 April 2018.

Semakin keras jantungku berdegup. Melihat arloji bergantian angka menunjukkan segera aku harus memintanya bersiap. Sambil menunggu berkemas aku tak ingin hanya berdiam. Ku coba merangkai kata guna merangsang timbulnya kontak suara. Rangkaian omong kosong bertaut membuatku mengerti arti dari sebuah kata "saling mengisi".

Tuuuuuuut tanda kereta berangkat. Aku bersiap didepan pintu pengantar berucap "setiap peraduan yang kau lalui. Buatlah maknamu sendiri". Berjabat tangan tanda kerelaan pun terjadi.

Aku kembali berpulang dengan 1001 diksi yang berisi tapi tak mampu ku susun dengan rapi. Pada pemberhentian keretamu disana cobalah bercerita karena siapa yang menerima cerita ialah yang dinamakan rumah.

Alang-alang 

Comments