Sebagai Gemerlap dan Pijar

Karena bintang dan gemerlap lampu kota. Kita menyepakati tentang tanya yang merekah. Sebab kita adalah benar-benar sebenarnya bukan sebenarnya benar-benar. 



Gemerlap pijar kota serta kerlip bintang menemaniku pada suatu percakapan tentang kesederhanaan yang secara perlahan dituntun semesta hingga mencapai tanya yang klimaks. Di tengah hutan gunung Lawu dengan kondisi fisik letih aku menemani seorang perempuan yang tidak mampu mengikuti rombongan. Lalu aku menemaninya sampai suatu titik dimana aku harus memintanya istirahat untuk sekadar berbincang.

Aku dan nya duduk dibawah pohon rindang dengan keadaan seadanya. Mulai dari tas, sepatu, sandang semuanya penuh dengan lumpur karena berkali kali tergelincir maupun terjungkal. Situasi di bawah pohon itu bisa dikatakan kalau untuk sekadar istirahat memang tidak layak. Karena ditengah jalur pendakian penuh dengan air paralon yang pecah. Ditengah kondisi seadanya aku mencoba memecah suasana dengan mengabarkan bilamana bintang serta lampu kota sedang bersekongkol didepanku maupun didepannya bahwa mereka berkata kalau bintang lebih indah dari pijar kota sekaligus sebaliknya. Namun aku mencoba membawai suasana agak dalam laiknya sebuah rekonsiliasi antara lampu dan bintang yang menggambarkan antara relung samudera terdalam yang penuh misterinya.

Setiap tutur keluar merupakan gambaran dari apa yang mata lihat lalu disesapi perasaan hingga diungkapkan oleh pikiran. Dalam ukiran cerita yang terlontar semua terpaparkan dengan begitu berarti berikut sangat dalam. Untuk cerita kesekian yang menekankan tentang kehilangan dan memiliki. Aku mencoba berada ditengahnya menyinergikan tentang yang dipertentangkan.

Karena kita ialah cerita yang berbentuk tanya, berwujud jawaban tentang sebuah penasaran.

Alang-alang. 

Comments