Jarak Menguatkan Cinta

Setelah mengenal salah satu pioneer Sosial Paradoks. Bung Dwi Prakoso memaparkan beberapa pandangan mengenai Cinta.

Dok pribadi 

Setelah beberapa waktu tidak dapat bertatap muka. Akhirnya semesta mempertemukan saya dengan bung Dwi Prakoso ia salah satu pendiri sekaligus pioneer komunitas jalanan bernama Sosial Paradoks. Menikmati kopi seduh ala beliau dengan rasa pahit sedikit manis saya mencoba mengorek pandangannya mengenai cinta.

Membayangkan cinta pasti kita langsung tertuju pada kisah antara dua sejoli yang sedang berbagi kasih. Terlepas dari kisah percintaan tak bertujuan tersebut sebenarnya kita dapat mengaplikasikan kasih sayang lewat cara yang lain. Misalnya ketika seseorang mengingatkan kepada kita untuk tidak membolos kuliah, tidak mengkonsumsi alkohol berlebih atau apa namanya. Disana terselip cinta yang secara tidak langsung menggunakan jarak sebagai perantara. Karena seseorang yang mengingatkan tersebut tidak memperdulikan cinta untuk dirinya sendiri yang sama sekali tidak terpisahkan jarak secara fisik.

Permisalan diatas menunjukkan kalau seseorang belum dapat merubah dirinya sendiri setidaknya dapat mengingatkan orang lain. Karena apa?, merubah diri sendiri memang sangat sulit. Apabila seseorang belum terlanjur tidakkah itu lebih baik?. Cinta memang seperti itu. Cinta membutuhkan konflik guna memperkokoh sebuah pondasi dan bagaimana cinta dapat menemukan jalan keluar dari sebuah permasalahan.

Jarak menguatkan cinta. Bahkan ia melupakan dirinya sendiri demi seseorang. Cinta butuh konflik agar tidak berjalan monoton dan bersifat temporer.

Terimakasih bung Dwi Prakoso atas pandanganmu sehingga dapat menambah wawasan dan tulisan di blog ini. Sebenarnya Jarak Menguatkan Cinta kurang bila hanya ditulis sedikit seperti ini. Karena saya bukan perangkai kata, hanya sedikit saja yang bisa saya tuliskan kawan. Rahayu 🙏

Alang-alang 

Comments